kebahagiaan tertinggi seorang guru

August 22nd, 2008 by dhewa-sangpendekar

assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Setelah sekian lama gak mengisi blog, pengen juga ngisi lagi…

Akhir-akhir ini aku merenung, apa sih yang  membuat para guru kita senang?

Tentu saja mereka butuh uang, wong manusia biasa kok..butuh makan, butuh pakaian, butuh istri, senang kalau ada anak2..tapi kalau ini mah semua manusia juga gitu

Ketika kemarin pas raker, ada guru (pak Antoni) cerita suatu ketika dia bertemu mantan muridnya dulu yang sudah menjadi pilot, dia pun diperlakukan istimewa di kabin pesawat. Padahal pak Antoni nya sendiri juga lupa, tapi alhamdululillah muridnya baik masih ingat ama gurunya.Yah enak juga ya pak…

Oh benar juga ya pak, memang kebahagiaan tertinggi guru bukan pada uang (walaupun saya tidak munafik, kita juga butuh) tapi ketika kita bisa melihat dan menyaksikan anak didik kita berhasil, sukses, berguna bagi masyarakatnya. Disitulah letak kebahagiaan tertinggi seorang guru….dan repotnya aku juga terkena sindrom seperti ini walaupun saya pribadi bukan lulusan UNJ yang notabene pencetak guru. Tampaknya ini sifat natural seseorang ketika ia menapaki jenjang karir di keguruan pada umumnya.Dilain pihak saya juga jadi mafhum betapa sedihnya guru ketika melihat anak didiknya ternyata gagal total atau malah jadi tikus pemakan dana masyarakat. sedih, bener…

Semoga semua anak didik saya jadi orang yang berguna di tengah-tengah masyarakatnya, sekarang dan masa yang akan datang, amiiin….

wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Api nan tak kunjung padam

June 30th, 2008 by dhewa-sangpendekar

Sebentar lagi tes potensi akademik neh buat masuk UI.

Moga-moga dapet, amiin

Guru generasi muda

November 1st, 2007 by dhewa-sangpendekar

assalamu’alaikum

Dulu saya kira jadi guru itu statis, diam di tempat, karir jelek, pendidikan mandeg, dll..

Ternyata saya salah…

Jadi guru, apalagi jadi jadi guru di jakarta sudah cukup mampu memberikan hidup yang layak. GAJI seh kecil (gaji gubernur DKI aja cuma 3 juta), cuma tunjangan nya itu lowh…gile juga. Tapi ya udahlah kalau masalah duit seh mungkin  para guru bisa ngasih les buat tambahan.

Yang paling penting pendidikan lanjutannya itu, apalagi banyak lowongan beasiswa dari instansi diknas.

Mas basit ke malaysia (walaupun bayar sendiri), Pras ke cheska, Fourier ke jerman, Nowo ke italy…

Wuahhhh gw kapan yaaaaaaaaaaah

dari almanhaj

May 25th, 2007 by dhewa-sangpendekar

SAHABAT DAN TABIIN BERHUJJAH (BERARGUMENTASI) DENGAN FAHAM SALAF DAN MANHAJ MEREKA

Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly

[1]. Abdullah bin Mas’ud
Dari Amru bin Salamah beliau berkata : Kami duduk-duduk di depan rumah Abdullah bin Mas’ud sebelum Dzuhur lalu jika beliau keluar kami akan berjalan bersamanya ke masjid, lalu datanglah Abu Musa Al-Atsary dan berkata : "Apakah Abu Abdurrahman telah menemui kalian ?"

Kami jawab : Belum.
Lalu beliau duduk bersama kami sampai Abdullah bin Mas’ud keluar, ketika beliau keluar kami semua menemuinya kemudian berkata Abu Musa kepadanya : "Wahai Abu Abdurrahman saya telah melihat di masjid tadi satu hal yang saya anggap mungkar dan saya tidak memandangnya -Alhamudlillah-kecuali kebaikan.

Beliau bertanya : "Apa itu ?"

Dijawab : "Jika engkau hidup niscaya akan melihatnya, aku telah melihat di masjid suatu kaum berhalaqah, duduk-duduk menanti shalat pada setiap halaqah ada seorang yang memimpin dan ditangan-tangan mereka ada batu kerikil, lalu berkata (yang memimpin) : "Bertakbirlah seratus kali dan mereka bertakbir seratus kali dan berkata " "bertasbihlah seratus kali dan mereka bertasbih seratus kali".

Berkata Abdullah bin Mas’ud : "Apa yang engkau katakan kepada mereka"
Abu Musa menjawab : "Saya tidak mengatakan sesuatupun pada mereka menunggu perintahmu.

Berkata Abdullah bin Mas’ud : "Mengapa tidak kamu perintahkan mereka untuk menghitung kejelekan mereka[1] dan aku menjamin mereka tidak ada kebaikan mereka yang disia-siakan".

Kemudian beliau berjalan dan kami berjalan bersamanya sampai beliau mendatangi satu halaqah dari pada halaqah-halaqah tersebut dan menghadap mereka lalu berkata : "Apa ini yang kalian lakukan ?!"

Mereka menjawab : "Wahai Abu Abdirrahman, batu kerikil yang kami pakai untuk menghitung tahlil dan tasbih".

Berkata Ibnu Mas’ud : "Dan aku menjamin tidak akan ada satupun kebaikan kalian yang tersia-siakan, celakalah kalian wahai umat Muhammad, alangkah cepatnya kebinasaan kalian, mereka sahabat-sahabat nabi masih banyak hidup dan ini pakaiannya belum rusak dan bejananya belum hancur dan demi dzat yang jiwaku di tangannya sesungguhnya kalian berada di atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad atau kalian pembuka pintu kesesatan".

Mereka berkata : "Demi Allah wahai Abu Abdurrahman, kami tidak menginginkan kecuali kebaikan, lalu beliau berkata : "Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya ada kaum yang membaca Al-Qur’an tidak melebihi tenggorokkannya [2] dan demi Allah saya rasa tampaknya kebanyakan mereka adalah dari kalian.

Kemudian beliau meninggalkan mereka. Amru bin Salamah berkata : "Aku telah melihat mayoritas halaqah-halaqah tersebut memerangi kami pada perang Nahrawan bersama Khawarij" [3]

Disini Abdullah bin Mas’ud telah beragumentasi kepada cikal bakal Khawarij dengan keberadaaan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diantara mereka dan mereka tidak melaksanakan pekerjaan tersebut, sebab seandainya hal itu merupakan kebaikan sebagaimana yang mereka sangka tentu sahabat-sahabat nabi telah mendahului mereka untuk melakukannya, maka itu merupakan kesesatan. Maka seandainya manhaj sahabat bukanlah hujjah atas orang setelah mereka maka tentu mereka berkata kepada Abdullah bin Mas’ud : "Kalian rijal dan kami rijal".

[2]. Beliaupun berkata :
Barangsiapa yang mencontoh maka contohlah sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka adalah orang-orang dari umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling tidak macam-macam, paling baik contoh teladannya dan paling bagus keadaannya, mereka adalah suatu kaum yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menemani NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan untuk menegakkan agamaNya, maka akuilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak langkah mereka karena mereka telah berada diatas petunjuk yang lurus.

[3]. Abdullah bin Abbas.
Ketika muncul kelompok Haruriyah (Khawarij) [4] mereka memisahkan diri di suatu perkampungan, mereka berjumlah 6000 orang dan bersepakat untuk menyempal (memberontak) dari Ali Radhiyallahu anhu. Orang-orang selalu mendatangi Ali Radhiyallahu ‘anhu dan berkata : Wahai Amirul Mukminin sesungguhnya kaum tersebut akan memberontak kepadamu. Lalu beliau menjawab : Biarkan mereka karena saya tidak akan memerangi mereka sampai mereka memerangi saya dan mereka akan melakukannya. [5]

Pada suatu hari saya (Ibnu Abbas) mendatanginya sebelum shalat dzuhur dan aku berkata kepada Ali Radhiyallahu ‘anhu : Wahai Amirul Mukminin akhirkan shalat agar saya dapat mengajak bicara mereka. Beliau berkata : Saya mengkhawatirkan mereka mencelakai kamu. Saya menjawab : Tidak akan, karena saya seorang yang berakhlak baik dan tidak pernah menyakiti seorangpun.

Lalu beliau mengizinkan saya, maka saya mengenakan pakaian yang paling bagus dari pakaian Yaman dan menyisir rambut saya kemudian aku menemui mereka di perkampungan mereka di tengah hari sedang mereka sedang makan, lalu saya menemui satu kaum yang saya tidak pernah menemukan kaum yang lebih bersungguh-sungguh (dalam ibadah) dari mereka, dahi-dahi mereka hhitam dari sujud, tangan-tangan mereka kasar seperti kasarnya unta dan mereka mengenakan gamis-gamis yang murah dan tersingkap serta wajah-wajah mereka pucat menguning.

Lalu saya memberi salam kepada mereka dan mereka menjawab : Selamat datang wahai Ibnu Abbas pakaian apa yang engkau pakai ini ?!

Saya menjawab : Apa yang kalian cela dariku ? Sunnguh saya telah melihat Rasululla Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bagus sekali ketika mengenakan pakaian Yaman, kemudian membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

"Artinya : Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambanNya dan (siapa pulakah yang menharamkan) rezki yang baik" [Al-A'raaf : 32]

Lalu mereka berkata : Apa maksud kedatangan engkau ?

Saya katakan pada mereka : Saya mendatangi kalian sebagai utusan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Muhajirin dan Anshar dan dari sepupu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menantunya sedangkan Al-Qur’an turun pada mereka sehingga mereka lebih mengetahui terhadap ta’wilnya dari kalian dan tidak ada di kalangan kalian seorangpun dari mereka ; sungguh saya akan menyampaikan kepada kalian apa yang mereka sampaikan dan saya akan sampaikan kepada mereka apa yang kalian sampaikan.

Lalu berkata sekelompok dari mereka : Janganlah kalian berdebat dengan orang Quraisy karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

"Artinya : Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar" [Az-Zukhruf : 58]

Kemudian bangkit kepadaku sebagian dari mereka dan berkata dua atau tiga orang : Sungguh kami akan mengajak bicara dia. Saya berkata : Silahkan, apa dendam kalian terhadap para sahabat Rasulullah dan sepupunya ? mereka menjawab : Tiga.

Saya katakan : Apa itu ?

Mereka mengatakan : Yang pertama karena dia berhukum kepada orang dalam perkara Allah Subhanahu wa Ta’ala sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

"Artinya : Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah…" [Al-An'am : 57]

Saya katakan : Ini satu.

Mereka berkata lagi : Yang kedua karena dia berperang dan tidak menawan dan merampas harta (yang diperangi), kalau mereka kaum kafir maka halal menawannya dan kalau mereka kaum mu’minin maka tidak boleh menawan mereka dan tidak pula memerangi mereka [6]

Saya katakan : Ini yang kedua dan apa yang ketiga ?

Mereka berkata : Dia menghapus gelar Amirul Mu’minin dari dirinya, maka jika dia bukan Amirul Mu’minin, dia Amirul Kafirin.

Saya katakan : Apakah masih ada pada kalian selain ini ?

Mereka menjawab : Ini sudah cukup

Saya katakan kepada mereka : Bagaimana pendapat kalian kalau saya bacakan kepada kalian bantahan atas pendapat kalian dari Kitabullah dan Sunnah NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah kalian mau kembali ?

Mereka menjawab : Ya.

Saya katakan : Adapun pendapat kalian bahwa dia (Ali) berhukum kepada orang (manusia) dalam perkara Allah maka saya bacakan kepada kalian ayat dalam kitabullah dimana Allah menjadikan hukumnya kepada manusia dalam menentukan harga 1/4 dirham, lalu Allah memerintahkan mereka untuk berhukum kepadanya. Apa pendapatmu tentang firman Allah :

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil diantara kamu" [Al-Maa'idah : 95]

Dan hukum Allah diserahkan kepada orang (manusia) yang menghukum dalam perkara tersebut, dan kalau Allah kehendaki maka dia menghukumnya sendiri, kalau begitu tidak mengapa seseorang berhukum kepada manusia, demi Allah Subhanahu wa Ta’ala apakah berhukum kepada manusia dalam masalah perdamaian dan pencegahan pertumpahan darah lebih utama ataukah dalam perkara kelinci ? mereka menjawab : Tentu hal itu lebih utama. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang seorang wanita dan suaminya.

"Artinya : Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimkanlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan" [An-Nisaa' : 35]

Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala apakah berhukum kepada manusia dalam perdamaian dan mencegah pertumpahan darah lebih utama dari berhukum kepada manusia dalam permasalahan wanita ?! Apakah saya telah menjawab hal itu ?

Mereka berkata : Ya

Saya katakan : Pendapat kalian : "Dia berperang akan tetapi tidak menawan dan merampas harta perang". Apakah kalian ingin menawan ibu kalian Aisyah yang kalian menghalalkannya seperti kalian menghalalkan selainnya, sedangkan beliau adalah ibu kalian ? Jika kalian menjawab : Kami menghalalkannya seperti kami menghalalkan selainnya maka kalian telah kafir dan jika kalian menjawab : Dia bukan ibu kami maka kalian telah kafir, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

"Artinya :Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka" [Al-Ahzab : 6]

Maka kalian berada di dua kesesatan, silakan beri jalan keluar ; Apakah saya telah menjawabnya ?

Mereka berkata : Ya.

Sedangkan masalah dia (Ali Radhiyallahu ‘ahu) telah menghapus gelar Amirul Mukminin dari dirinya, maka saya akan datangkan kepada kalian apa yang membuat kalian ridha, yaitu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari perjanjanjian Hudaibiyah berdamai dengan kaum musyrikin, lalu berkata kepada Ali : Hapuslah wahai Ali (tulisan) Allahumma Inaaka Ta’alam Ani Rasulullah (wahai Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku adalah Rasulullah) dan tulislah (kalimat) Hadza ma Shalaha Alaihi Muhammad bin Abdillah (ini adalah perjanjian yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdillah)[7] Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari Ali dan beliau menghapus (gelar kerasulannya) dari dirinya dan tidaklah penghapusan tersebut berarti penghapusan kenabian dari dirinya. Apakah aku telah menjawbnya ?

Mereka berkata : Ya

Kemudian kembalilah dari mereka dua ribu orang dan sisanya memberontak dan berperang diatas kesesatan mereka lalu mereka diperangi oleh kaum Muhajirin dan Anshar.[8]

Disini Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu berargumentasi (berhujjah) dengan manhaj sahabat dalam menghadapi kaum Khawarij, karena Al-Qur’an turun kepada mereka, maka mereka adalah orang yang paling mengetahui tafsirnya dan mereka menemani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga menjadi orang yang paling mengikuti jalan beliau. Jawaban Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu terhadap syubhat-syubhat Khawarij dan penjelasan beliau sisi kebenaran dari kebathilan adalah dalil ilmiyah atas do’a yang telah saya kemukakan dari pengambilan hujjah (argumentasi) dengan manhaj sahabat.

[4]. Al-Uzaa’iy Rahimahullah berkata : Sabarkan (tetapkan) dirimu diatas Sunnah, berhentilah dimana kaum (para sahabat) berhenti, katakanlah apa yang mereka katakan dan diamlah terhadap yang telah mereka diamkan serta berjalanlah di jala As-Salaf Ash-Shalih, karena mereka mencukupkan kamu apa yang telah mencukupkan mereka. [9]

[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]
__________
Foote Note.
[1]. Agar mereka meminta ampunan darinya, karena barangsiapa yang menghitung kejelekannya maka akan mendorongnya untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
[2]. Hadits ini memiliki jalan lain dari Abdillah bin Mas’ud dikeluarkan oleh Ahmad 1/404 dengan sanad yang baik. Dan demikian juga diriwayatkan dari sejumlah sahabat.
[3]. Lihat Takhrij dan fiqih perdebatan ini dalam kitab saya " Al-Bid’ah wa Atsaruha Asayi’ fi Al-Ummah hal, 29-33, cetakan ketiga.
[4]. Nisbat kepada Harura’ yaitu sebuah desa berjarak dua mil dari Kuffah, dia menjadi tempat pertama berkumpulnya kaum Khawarij yang menyelisihi Ali bin Abi Thalib, lalu dinisbatkan kepadanya. Lihat Mu’jam Al-Buldan 3/345 dan Allubaab fi Tahdzibil Ansaab 1/359
[5]. Sebagai pembenaran terhadap khabar Rasulullah tentang mereka.
[6]. Demikianlah hukum terhadap kelompok pembangkan : wanita-wanita mereka tidak ditawan dan tidak dibagi-bagikan fa’inya, tidak dibunuh orang-orang yang luka dari mereka dan tidak dikejar orang-orang yang lari serta tidak dimulai memeranginya sebelum mereka melakukannya.
[7]. Dan hadits ini memiliki syahid dan hadits Bara’ bin Aaziib dikeluarkan oleh Bukhariy 5/303-304 (fath) dan Muslim 12/134-138 (Nawawiy) dan syahid dari hadits Anas dikeluarkan oleh Muslim 12/138-139 (Nawawiy).
[8]. Shahih, lihat takhrijnya dalam kitab : Munaadzaraatussalaf Ma’a Hizbi Iblis wa Afrokhil Kholaf, hal.95 penerbit Dar Ibnil Jauziy, Damam
[9]. Al-Aajuriy dalam Asy-yariat, hal 58

belajar jadi guru, pusing buanget

December 24th, 2006 by dhewa-sangpendekar

Assalamu’alaikum

Hyeuhhh

Ternyata capek juga jadi guru, walaupun jadwalnya cuma sampai jam 12 siang, setelah pulang masih ada yang harus dikerjain, ngecek nilai tugas anak2 dan juga persiapan schedule.

Tapi yang paling bikin pusing adalah cara penyampaian pelajaran ke anak2. kalau untuk physics A-level di smun 8 gak masalah karena yang ikut cuma 5 orang jadi bisa gw bawa ke library, yang ngajar matematika di smun 21 itu yang agak repot.

Repot dimananya?

1) jumlah muridnya 23 orang, gw perlu waktu untuk belajar skill ngomong ke orang banyak gini

2) Ruangannya entah kenapa agak bergaung, suara gw jadi terlalu kecil

3) Gak semua anaknya punya semangat belajar, terutama pelajaran matematika yang gw ajarin. Yang lebih banyak anak2 yang demen ribut. Gw jadi kangen keadaan kelas gw dimasa lalu yang anak2 lumayan disiplin lah.

Khusus untuk nomer 3, gw baru ngeliat beberapa orang anak yang lumayan aktif. Contohnya Bunga dan Randy (walaupun anak ini kadang2 suka panik sendiri waktu tes, not a good habit actually). Thomas ama aldo walaupun pinter lebih banyak diem di kelas. Sisanya? well, kayaknya perlu pendekatan berbeda untuk mereka ^^.

Yang paling penting adalah menghilangkan sifat manja + sifat malas . Gw denger dari adek gw, ada murid yang protes karena tes nya semua tentang trigonometri, ya iyalah, masa’ mau gw tambahin. "Di smp belum diajarin" katanya gituh,yahh kan gw cuma ngeluarin apa2 yang udah gw ajarkan. Gw gak expect mereka mereka ngeluarin apa2 yang gak saya ajarkan, walaupun itu juga cukup baik.Soal matematika itu juga dah gw kasih ke pak basit sama bu dian, mereka bilang fine2 aja dan harusnya mereka bisa ngerjain semuanya dengan baik (ditambah lagi karena mereka open book + boleh pakai kalkulator). Tapi yang paling bikin gw kesel adalah ada yang tetep gak mau ngerjain exercise buat memperbaiki nilai. Tambahan nilai 1 (katanya) gak worth….

Gak worth?

By right sebenarnya gak ada istilah remedial di kelas international. Kalau nilainya segitu ya segitu aja. Dengan ngasih keringanan seperti ini sebenarnya gw jadi ditegur ama pak basit karena dalam international class gak boleh ada yang namanya remedial. Dan kalau orang2 ini teliti sebenarnya banyak yang bisa mereka dapatkan dari 1 angka ini. Nilai mereka yang jelas bisa naek (secara overall cukup membantu, karena berarti class participationnya bakal gw tambahin) dan juga tentunya ada tambahan latian yang bisa didapatkan buat bekal exam juni nanti.

Yah gak semuanya gitu2 sih. Gw salut sama beberapa anak yang lumayan semangat mengikuti pelajaran dan juga semangat memperbaiki nilai mereka (4 jempol buat randy, keep your spirit up)

Untuk gw sendiri, gw perlu untuk memperbaiki metode ngajar. Agak bingung juga mikir variasi ngajar matematika, apalagi mengingat matematika IGCSE ini sebenarnya gak gitu susah2 amat dan juga sebenarnya cuma direct application aja. Jadi kemungkinan kedepan ya mungkin gw bakal memperbanyak quiz.

Nanti ada 3 opsi yang bakal tawarkan:

1) metode seperti biasa, quiz cuma setelah 1 chapter, ada homework dan exercise. Untuk yang ini gak ada lagi yang namanya remedial!!

2) small quiz selama 1 jam dilakukan setiap selesai pelajaran hari itu. soalnya cuma sekitar 5 buah dan cukup mudah. Ada quiz tersendiri setelah 1 chapter selesai. Rata2 quiz harian dan "big" quiz dijumlah dan dibagi 2. Cukup membantu nilainya anak2. Tapi sulitnya mengakomodir orang yang kebetulah gak masuk pada hari itu. Mesti dikasi tes susulan kali. Kesulitan lainnya adalah mengajak orang untuk terus berpikir mungkin agak sulit.

3) Untuk yang terakhir adalah mengadakan quiz for each chapter twice. Jadi bakal ada 2 quizzes tiap 1 chapter, nanti gw milih nilai yang terbaik. Tapi ada dua syarat buat tes ini, pertama semua murid mesti ikut kedua tesnya, nilainya diumumkan cuma setelah tes yang kedua. Dan yang kedua, tes yang kedua akan lebih susah dari tes yang pertama. Total tetep 10 nomer untuk kedua tes.

we’ll see, nanti diundi

wassalamu’alaikum

Fatwa dan nasihat syaikh utsaimin (tentang nyanyian dan rokok)

October 1st, 2006 by dhewa-sangpendekar

Pertanyaan:

Sebagian orang mengklaim bahwasanya nyanyian dan rokok tidak haram karena tidak terdapat dalil yang menyebutnya secara eksplisit dalam Alquran?

Jawaban:

Nyanyian memang tidak haram, kecuali yang bertema rendah, atau diiringi musik dan alat kesia-siaan lainnya, maka hukumnya menjadi haram karena instrumen yang mengiringinya atau karena temanya yang hina. Adapun nyanyian ketika bekerja, menggembala unta dan sejenisnya tidaklah haram.

Masalah rokok, didalam Alquran dan sunnah memang tidak tercantum namanya. Akan tetapi terdapat kaidah umum yang menunjukkan keharamannya. Tidaklah dipersyaratkan bila sesuatu itu diharamkan atau dihukumi haram untuk disebutkan nashnya secara eksplisit karena Islam adalah agama yang universal bagi umat Islam sampai hari kiamat. Adapun kejadian-kejadian terperinci tidak mungkin diliput oleh manusia secara keseluruhan, bahkan tidak mungkin untuk disebutkan bagi manusia satu-persatu pada saat turunnya Alquran, sedang mereka tidak mengetahui apa-apa tentang itu. Dan sudah maklum bahwa rokok baru muncul pada dekade mutakhir. Karena itu Alquran dan Assunnah mencantumkan kaidah-kaidah umum, tercakup didalamnya sesuai kehendak Allah semua perkara-perkara terperinci yang dikenali oleh ulama.

Diambil dari:

As’ilah wa Ajwibah ‘An Al-Faazh wa mafahim fi miizan asy-syariah

Ucapan-ucapan yang dilarang (terjemahan)

Disclaimer:

Sa’id bin Al-Musayyab (wafat 93H) berkata, “Seorang ulama, orang yang mulia, atau orang yang memiliki keutamaan tidak akan luput dari kesalahan. Akan tetapi, barangsiapa yang keutamaannya lebih banyak dari kekurangannya, maka kekurangannya itu akan tertutup oleh keutamaannya. Sebaliknya, orang yang kekurangannya mendominasi, maka keutamaannya pun akan tertutupi oleh kesalahannya itu.

Syaikh utsaimin adalah manusia biasa yang perkataannya bisa diterima atau ditolak (melalui dalil yang shahih tentunya). Sungguhpun begitu syaikh utsaimin telah banyak berjasa kepada Umat Islam melalui keluasan ilmu beliau. Kepada kawan-kawan yang mengetahui adanya kekhilafan dalam fatwa yang saya lampirkan, silakan berikan rujukannya melalui private message.

 

Fatwa dan nasihat syaikh utsaimin (tentang shahabat nabi)

October 1st, 2006 by dhewa-sangpendekar

Pertanyaan:

Mungkinkah realita kaum muslim dewasa ini mampu mencapai level para shahabat yang iltizam terhadap agama Allah? Sebagian orang berdalih bahwa para shahabat mampu mencapai derajat tersebut karena nabi ada di tengah-tengah mereka.

Jawaban:

Mencapai derajat para shahabat adalah mustahil karena nabi telah bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah zamanku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka."

Adapun memperbaiki realita umat Islam agar keluar dari realita yang adalah satu hal yang mungkin, dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Telah tsabit dari nabi bahwa beliau telah bersabda:

"Senantiasa selalu ada kelompok dari umatku yang senantiasa berjuang diatas kebenaran, mereka tidak terusik oleh orang-orang yang menghina, dan menyelisihi mereka sampai tiba perintah Allah sedang mereka tetap demikian"

Tidak diragukan lagi bahwa Umat Islam dewasa ini berada dalam relaita yang jauh dari apa yang dikehendaki Allah, yaitu bersatu dan kuat diatas AGAMA ALLAH karena Allah berfirman,

"Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertaqwalah kepada-Ku" (Al-Mukminuun : 52)

diambil dari buku:

As’ilah wa Ajwibah ‘An Al-Faazh wa mafahim fi miizan asy-syariah

Ucapan-ucapan yang dilarang (terjemahan)

Disclaimer:

Sa’id bin Al-Musayyab (wafat 93H) berkata, “Seorang ulama, orang yang mulia, atau orang yang memiliki keutamaan tidak akan luput dari kesalahan. Akan tetapi, barangsiapa yang keutamaannya lebih banyak dari kekurangannya, maka kekurangannya itu akan tertutup oleh keutamaannya. Sebaliknya, orang yang kekurangannya mendominasi, maka keutamaannya pun akan tertutupi oleh kesalahannya itu.

Syaikh utsaimin adalah manusia biasa yang perkataannya bisa diterima atau ditolak (melalui dalil yang shahih tentunya). Sungguhpun begitu syaikh utsaimin telah banyak berjasa kepada Umat Islam melalui keluasan ilmu beliau. Kepada kawan-kawan yang mengetahui adanya kekhilafan dalam fatwa yang saya lampirkan, silakan berikan rujukannya melalui private message.

The story of shaikh uthaimin (4)

September 29th, 2006 by dhewa-sangpendekar

“…he slept very little at night during the times of major crises within the Ummah…”
*Please appropriately reference this quote to: www.fatwa-online.com, thankyou!*
Concerning the Imaam, the Shaykh - Muhammad ibn Saalih al-’Uthaymeen (rahima-hullaah), it has been narrated by Shaykh Badr ibn Naadir al-Mashaaree:

“One of his (Shaykh Ibn ‘Uthaymeen’s) students informed me that he slept very little at night during the times of major crises within the Ummah, especially during the days of the Gulf War and the tragedy of our brothers (and sisters) in Bosnia and Chechnya; Whereby he would stand the night (in prayer) beseeching His Lord for their victory (against their enemies) and firmness (upon Islaam) and to repel the plans of the enemies of the religion against them; He also prayed for the Muslims (in general) and encouraged them to stand by (support) them (in their hardship against their enemies).

http://www.fatwa-online.com/jewelsofguidance/ibnuthaymeen/0031102.htm

The story of shaikh uthaimin (3)

September 29th, 2006 by dhewa-sangpendekar

“Resting is in being at the service of the Muslims”
*Please appropriately reference this quote to: www.fatwa-online.com, thankyou!*
Concerning the Imaam, the Shaykh - Muhammad ibn Saalih al-’Uthaymeen (rahima-hullaah), it has been narrated by Shaykh Badr ibn Naadir al-Mashaaree:

“Despite the ill-health of the Shaykh, he was steadfast in delivering the Jumu’ah khutbah in al-Jaami’ al-Kabeer and leading the prayers and meeting the people to answer their questions and enquiries; All this in spite of what he was going through himself, such that it was said to him: "Rest yourself O Shaykh", to which he replied: "Resting is in being at the service of the Muslims".

ad-Durr ath-Thameen fee Tarjamti Faqeehil-Ummah al-’Allaamah ibn ‘Uthaymeen - Page 296

http://www.fatwa-online.com/jewelsofguidance/ibnuthaymeen/0031114.htm

The story of shaikh uthaimin (2)

September 29th, 2006 by dhewa-sangpendekar

“…whilst he was still young…”
*Please appropriately reference this quote to: www.fatwa-online.com, thankyou!*
Concerning the Imaam, the Shaykh - Muhammad ibn Saalih al-’Uthaymeen (rahima-hullaah), it has been narrated by Shaykh ‘Aasim ibn ‘Abdil-Mun’im al-Maree:

“And from the special characteristics for which he was well-known was his steadfastness in (seeking) knowledge. Some of the relatives of Shaykh ‘Abdullaah ibn Muhammad al-Maani’ (rahima-hullaah), who was a judge in ‘Unayzah until 1360 AH (1936 AD) mentioned that the Shaykh (Ibn ‘Uthaymeen) would arrive early every morning at their home, whilst carrying his papers and books. He would knock on the door, extend greetings and seek permission to ascend to the library. There he would remain until just before (the time of) Zhuhr, whereby he would descend, extend greetings and depart. This was whilst he was still young and had not yet reached the age of puberty.

http://www.fatwa-online.com/jewelsofguidance/ibnuthaymeen/0031126.htm